• Telp+62 (21) 788 433 71
  • Email Seketariatsekretariat@rabithah-alawiyah.org
  1. Pages
  2. Seputar Rabithah
11Jul  2017

Teknologi Nuklir Untuk Ketahanan Energi Nasional (bagian kedua)



Pada Juni 2016 yang lalu, DEN mengadakan sidang untuk membahas dan menetapkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), dan telah menetapkan beberapa poin, diantaranya adalah supaya pengembangan opsi nuklir dibuatkan roadmap. Opsi nuklir sebagai pilihan terakhir dalam KEN diterjemahkan dalam RUEN mencakup langkah-langkah sebagai berikut [2]:

  1. Membangun reaktor daya riset dan laboratorium reaktor sebagai tempat ahli nuklir berekspresi, berinteraksi dan berkarya, serta memberikan dukungan untuk dilaksanakannya riset-riset terkait nuklir supaya apa yang sudah dikuasai tidak hilang dan dapat dipertahankan.
  2. Mendorong kerja sama internasional agar selalu termutakhirkan dengan kemajuan teknologi.

Membangun reaktor daya eksperimen (RDE) sudah dimulai pada tahun 2015 pada tahap penyusunan konsep desain oleh BATAN. Tahun 2016 dilanjutkan tahapan review dokumen oleh BAPETEN, dan apabila telah disetujui terhadap konsep desain akan dilanjutkan dengan penyusunan detail desain sebagai persyaratan untuk mendapatkan izin pembangunan. Kementerian ESDM sebagai lembaga teknis yang membidangi energi juga diharapkan akan segera membuat roadmap yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam merealisasikan program pemanfaatan energi nuklir sebagai pembangkit listrik. Apabila seluruh tahapan tersebut dapat dijalankan dengan baik oleh masing-masing pemangku kepentingan diharapkan kebijakan penggunaan nuklir sebagai pembangkit listrik di Indonesia bisa segera direalisasikan untuk mendukung kemandirian energi nasional. [2]

Kegiatan litbang yang berkaitan dengan ketenaganukliran di Indonesia telah lama dirintis BATAN sejak tahun 1958. Pembangunan reaktor riset TRIGA-2000 di Bandung yang dilengkapi dengan fasilitas penunjang, dan reaktor riset Kartini di Yogyakarta yang dilengkapi dengan unit pemurnian uranium merupakan langkah awal yang dirintis Indonesia dalam penguasaan teknologi  untuk menciptakan SDM yang berkualifikasi tinggi di bidang nuklir. Pengalaman membangun, mengoperasikan, dan merawat fasilitas tersebut sangat menunjang pengembangan lebih lanjut.

Langkah yang lebih maju ditandai dengan pembangunan Reaktor G.A.Siwabessy dan laboratorium penunjang di kawasan Puspiptek Serpong, Tanggerang Selatan. Reaktor ini memiliki daya 30 MW yang dapat digunakan untuk penelitian, produksi radioisotop, dan sekaligus dapat digunakan untuk pengujian material yang diperlukan dalam pembangunan dan pengoperasian PLTN. Fasilitas lainnya adalah instalasi produksi elemen bakar nuklir, instalasi pengolahan limbah radioaktif, instalasi radiometalurgi, dan instalasi keselamatan reaktor.

BATAN terus melakukan kajian, penelitian, dan pengembangan teknologi, dan keselamatan PLTN, untuk meningkatkan kesiapan introduksi PLTN di Indonesia. Salah satu yang tengah gencar dikaji BATAN adalah studi teknologi PLTN skala kecil dan menengah.

Sebagian besar orang berpendapat bahwa sebuah reaktor nuklir membutuhkan peralatan yang canggih dan sangat mahal serta fisiknya yang sangat besar sekaligus berbahaya dalam pengoperasiannya. Kenyataannya, reaktor nuklir dalam praktik tidak selalu memiliki bentuk yang luar biasa besar. Reaktor nuklir dapat pula dalam bentuk yang lebih kecil. Reaktor yang memiliki bentuk yang lebih kecil memang hanya memproduksi energi yang lebih kecil pula, tetapi desain dan rancang bangunnya menjadi lebih sederhana. Reaktor nuklir dalam ukuran kecil ini disebut dengan SMR (Small Modular Reactor). Beberapa penelitian tentang SMR telah dilakukan di berbagai belahan dunia karena meninjau potensi yang mampu diberikannya.

International Atomic Energy Agency (IAEA) mendefinisikan, SMR sebagai sistem PLTN yang dapat memproduksi listrik hingga 300 MW yang dapat dengan mudah dikirim dan dipasang sesuai pesanan permintaan[3]. SMR merupakan teknologi yang dikembangkan untuk menjawab tantangan kebutuhan energi bagi negara-negara yang kapasitas jaringan listriknya belum memadai untuk PLTN skala besar, seperti yang terdapat pada beberapa negara berkembang termasuk Indonesia [4].

Penggunaan reaktor berukuran lebih kecil menyebabkan beberapa faktor kompleks dapat direduksi secara maksimal tanpa mempengaruhi keamanan reaktor. Selain itu, SMR tidak membutuhkan infrastruktur yang kompleks dalam pengoperasiannya. Sisi lain yang menjadi perhatian khusus ialah ditinjau dari aspek ekonomi, SMR dapat mengurangi biaya pengeluaran untuk membangun dan perawatan reaktor nuklir skala besar. Dalam bidang keamanannya, bisa dikatakan lebih aman disebabkan untuk masalah kebocoran atau yang lainnya akan lebih mudah untuk dideteksi. Pada aspek keselamatannya, desain SMR dapat menggabungkan suatu sistem fitur keselamatan pasif, di mana PLTN besar tidak dapat melakukannya. Juga lebih dapat menghemat lahan untuk membangun SMR, sebab volumenya yang tidak memakan banyak ruang.

Pembangunan PLTN dengan SMR dinilai sangat cocok diaplikasikan di Indonesia terutama untuk wilayah di luar Pulau Jawa, yang belum memiliki kapasitas jaringan pembangkit listrik besar sehingga dapat melayani pasokan listrik di daerah terpencil dan pelosok untuk menyeimbangkan pertumbuhan permintaan listrik guna pembangunan dan kesejahteraan masyarakat pada area tersebut, asalkan memenuhi kriteria keberterimaan tapak. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk menerapkan SMR di Pulau Jawa.

Studi SMR di Indonesia, sudah dimulai sejak 2001 dengan mempelajari reaktor daya terapung KLT-40 dan reaktor baterai. Di ITB dikembangkan desain reaktor SPINNOR (Small Pb-Bi Cooled Non-Refueling Nuclear Power Reactor). Sementara itu, di UGM dikembangkan desain reaktor PCMSR (Passive Compact Molten Salt Reactor). BATAN telah melakukan penelitian untuk pengembangan SMR, salah satunya adalah reaktor gas yang dikenal dengan RGTT-200, yaitu reaktor gas temperatur tinggi dengan daya 200 MW.

Reaktor SPINNOR merupakan salah satu dari jenis reaktor SMR, generasi ke-IV bertipe LMFBR (Liquid Metal Fast Breeder Reactor), yang merupakan reaktor cepat berumur panjang berpendingin Pb-Bi (lead/lead-bismuth cooled long life fast reactor). Konsep SPINNOR telah dikembangkan sejak tahun 1990 di ITB dengan bantuan RLNR (Research Laboratory for Nuclear Reactors) dari Tokyo Institute of Technology [4].

SMR memiliki prospek yang sangat baik untuk penyebaran energi listrik pada beberapa daerah terpencil, seperti pada banyak bagian di Indonesia, untuk memecahkan permasalahan defisit suplai daya listrik pada area tersebut sehingga dapat menjamin ketahanan energi nasional. Oleh karena itu, penelitian mendalam terkait reaktor berukuran kecil perlu dilakukan terutama untuk negara berkembang seperti Indonesia.

 

Referensi:

[1] Dewan Energi Nasional (DEN). 2016. Outlook Energi Indonesia 2016. Jakarta: Sekretariat Jenderal Dewan Energi Nasional.

[2] Humas BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional). 2016. Tarik Ulur Energi Nuklir dalam Program Energi Nasional. From: http://www.batan.go.id/index.php/id/publikasi-2/pressreleases/2617-tarik-ulur-energi-nuklir-dalam-program-energi-nasional (diakses pada 3 April 2017, pukul 01.43).

[3] IAEA Advanced Reactors Information System (ARIS). 2016. Advances in Small Modular Reactor Technology Developments. Austria: International Atomic Energy Agency (IAEA).

 [4] Su’ud, Zaki. 2007. Advanced SPINNORs Concept and The Prospect of Their Deployment in Remote Area. International Conference on Advances in Nuclear Science and Engineering in Conjunction with LKSTN 2007 (199-207).

 

*) Penulis merupakan mahasiswa Fisika Nuklir – Institut Teknologi Bandung (ITB); Sekretaris Jenderal Komunitas Muda Nuklir Nasional wilayah Bandung (KOMMUN Bandung).

Kontak : irfanalaydrus@students.itb.ac.id (e-mail)