• Telp+62 (21) 788 433 71
  • Email Seketariatsekretariat@rabithah-alawiyah.org
  1. Pages
  2. Seputar Rabithah
11Jul  2017

Teknologi Nuklir Untuk Ketahanan Energi Nasional (bagian pertama)



Oleh: Muhammad Irfan Alaydrus *)

Dalam melakukan aktivitas sehari-hari manusia membutuhkan energi. Energi juga diperlukan untuk menggerakkan mesin industri, penerangan, transportasi, penelitian, dan keperluan lainnnya. Sumber energi dapat diperoleh dari alam, seperti matahari, air, angin, atau dari bahan makanan yang ada di sekitar kita. Energi mempunyai peran sangat penting dalam mewujudkan pembangunan nasional yang berkelanjutan, di mana energi berfungsi sebagai alat dorong utama dari setiap langkah signifikan pencapaian kemajuan peradaban manusia dan sistem perekonomian dunia. Oleh karena itu pengelolaan sumber energi dan pemanfaatannya harus dilakukan secara optimal, arif, dan bijaksana, yang dilandasi oleh pertimbangan dari aspek lingkungan, kebutuhan energi, kepentingan antar generasi, sosial politik, geopolitik, dan ekonomi.

Untuk mendukung pembangunan nasional terutama yang berbasis industri di masa mendatang, diperlukan sumber energi yang cukup besar. Sampai saat ini, Indonesia masih menghadapi persoalan dalam mencapai target pembangunan bidang energi. Berdasarkan data tahun 2014, Kementerian ESDM mencatat bahwa energi fosil (minyak bumi, gas bumi, dan batu bara) masih mendominasi dalam konsumsi energi primer, di mana konsumsi minyak bumi 41,0% dari total konsumsi energi nasional, diikuti batu bara 32,3%, gas 19,7%, biomasa modern 2,9%, tenaga air 2,5%, panas bumi 1,1%, dan listrik impor 0,4%. Selama periode 2004 sampai dengan 2014, konsumsi energi primer Indonesia meningkat dari 127 juta TOE (Tonnes Oil Equivalent) menjadi 215 juta TOE, atau tumbuh 5,4% per tahun. Namun demikian, total pangsa energi baru dan terbarukan (EBT) pada tahun 2014 hanya mencapai sekitar 7%, upaya untuk memaksimalkan pemanfaatan EBT belum dapat berjalan sebagaimana yang direncanakan[1].

Mengingat permintaan terhadap energi yang terus meningkat dan terbatasnya ketersediaan sumber energi primer, terutama minyak bumi dan batu bara, serta dengan mempertimbangkan dampak kerusakan lingkungan, maka pemilihan sumber energi di masa depan harus dilakukan dengan cermat. Hal tersebut mendorong pemerintah untuk menjadikan EBT sebagai prioritas utama untuk menjaga ketahanan dan kemandirian energi, mengingat potensi EBT sangat besar untuk dapat menjadi andalan dalam penyediaan energi nasional di masa mendatang[1].

EBT terdiri dari tenaga surya, tenaga angin, tenaga air, tenaga laut, panas bumi, biodiesel, bioethanol, biomasa komersial termasuk limbah pertanian dan rumah tangga. EBT terus dikembangkan dan dioptimalkan, dengan mengubah pola pikir bahwa EBT bukan sekedar sebagai energi alternatif dari bahan bakar fosil, tetapi harus menjadi pasokan energi nasional dengan porsi EBT sebesar 23% pada tahun 2025 dan di tahun 2050 paling sedikit sebesar 31%. [1]

Studi perencanaan energi nasional yang komprehensif untuk berbagai macam sumber energi telah dilakukan oleh Dewan Energi Nasional (DEN). Berdasarkan data tahun 2015, diperkirakan kebutuhan energi final nasional akan mencapai 238,8 MTOE (Million Tonnes Oil Equivalent) pada tahun 2025, peningkatan sekitar 1,8 kali lipat dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 6,4% dibandingkan dengan konsumsi energi final pada tahun 2015 (128,8 MTOE). Kebutuhan energi final akan semakin meningkat dan mencapai 682,3 MTOE pada tahun 2050. Rata-rata pertumbuhan kebutuhan energi selama periode 2015-2050 adalah sekitar 4,9% per tahun[1]. Maka apabila penyediaan energi hanya bertumpu pada sumber energi fosil, panas bumi, dan air akan terjadi kekurangan pasokan. Untuk lebih menjamin dalam pembangunan nasional yang berkelanjutan, maka sudah selayaknya kita harus memikirkan energi alternatif lain untuk memenuhi kekurangan tersebut.

Salah satu energi alternatif yang cukup prospektif untuk dapat memenuhi kebutuhan energi di masa depan tersebut, yaitu energi nuklir sebagai pelengkap dari sumber energi lainnya. Dalam era teknologi saat ini reaktor nuklir telah menjadi penghasil listrik yang cukup menjanjikan karena mampu menghasilkan energi yang jauh lebih besar dalam jangka waktu yang lebih panjang dibandingkan pembangkit energi lainnya, serta aman bagi lingkungan dan kehidupan manusia dengan limbah dan biaya operasi yang lebih rendah. Reaktor nuklir dapat menggantikan pembangkit listrik lainnya yang cenderung mengabaikan polusi udara yang cukup berbahaya untuk makhluk hidup. Bagaimanapun juga pemilihan PLTN sebagai pembangkit energi listrik alternatif perlu persiapan yang matang dari berbagai pihak yang terlibat karena teknologi tersebut memang dapat menyebabkan kecelakaan besar.

Peraturan yang mengatur tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), yaitu PP No. 79/2014 sebagai pengganti Perpres No. 5/2006.  Ada perbedaan yang mencolok terhadap arah kebijakan pada kedua peraturan tersebut, yaitu dalam Perpres No. 5/2006 nuklir menjadi bagian dalam KEN, sedangkan dalam PP No. 79/2014 nuklir sebagai pilihan terakhir. Hal tersebut yang kemudian membuat rencana pembangunan PLTN menjadi tidak berujung hingga saat ini.

Referensi:

[1] Dewan Energi Nasional (DEN). 2016. Outlook Energi Indonesia 2016. Jakarta: Sekretariat Jenderal Dewan Energi Nasional.

*) Penulis merupakan mahasiswa Fisika Nuklir – Institut Teknologi Bandung (ITB); Sekretaris Jenderal Komunitas Muda Nuklir Nasional wilayah Bandung (KOMMUN Bandung).