• Telp+62 (21) 788 433 71
  • Email Seketariatsekretariat@rabithah-alawiyah.org
  1. Pages
  2. Seputar Rabithah
06Dec  2016

Bakti Jamiat Kheir untuk Bangsa

Salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia, Jamiat Kheir, menyelenggarakan milad ke-115 pada Ahad (27/11) lalu. Sebagai lembaga pendidikan tertua, peran Jamiat Kheir sangat vital dalam perjalanan perjuangan bangsa Indonesia. Sebab, Jamiat Kheir merupakan salah satu pilar kebangkitan nasional. Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid yang ikut menghadiri hari jadi Jamiat Kheir ke-115 mengakui peran vital lembaga pendidikan ini bagi perjalanan bangsa Indonesia.

Dia mengungkapkan, jika berbicara soal Jamiat Kheir maka berbicara soal sejarah pergerakan perjuangan kemerdekaan bangsa. Bung Karno, kata dia, pernah mengungkapkan istilah Jas Merah, artinya jangan melupakan sejarah. Ia menilai, banyak sekali elemen rakyat yang berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia termasuk Jamiat Kheir. Menurut dia, Jamiat Kheir adalah organisasi tertua yang didirikan sejak 1901.

Pada awal mula didirikan, 1901, banyak masyarakat Indonesia yang belum mengenal Jamiat. Padahal, Jamiat yang pertama kali memulai kesadaran sosial peningkatan sumber daya umat dan bangsa melalui jalur pendidikan, kata Hidayat Nur Wahid, Ahad (27/11).

Ia menjelaskan, kegiatan Jamiat Kheir kala itu lebih mengarah kepada masalah sosial kemasyarakatan, yang menitikberatkan kepada masalah penanggulangan kemiskinan dan kebodohan yang diderita oleh umat Islam akibat penjajahan saat itu. Menurut Hidayat, setiap peran berbagai elemen masyarakat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah sangat penting dan harus dihormati. Inilah pentingnya sejarah yang lengkap disampaikan dan dikomunikasikan kepada rakyat, kata dia.

Dalam kesempatan itu, Hidayat mengucapkan selamat milad kepada Jamiat Kheir dan sangat mengapresiasi segala kiprah, peran, dan upaya Jamiat sebagai salah satu elemen bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengisi pembangunan Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Plt Ketua Jamiat Kheir, Husin Alatas, menjelaskan kilas balik sejarah Jamiat Kheir. Jamiat Kheir, kata dia, merupakan organisasi Islam modern pertama dan tertua di Indonesia. Pada saat awal pendiriannya bergerak di bidang sosial dan pendidikan, di samping juga ekonomi dan politik.

Berawal dari gagasan yang dikemukakan pada 1898 di daerah Pekojan, Batavia, pada 1901 didirikanlah perkumpulan Jamiat Kheir oleh lima orang masing-masing Said bin Ahmad Basandit, Ali bin Ahmad Shahab, Muhammad bin Abdullah Shahab, Muhammad al-Fakhier bin Abdurrahman al-Masyhur, serta Idrus bin Ahmad Shahab.

Di kemudian hari perkumpulan tersebut terbukti menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya kebangkitan nasional yang muaranya adalah kemerdekaan Indonesia pada 1945, kata Husin. Pada 1906, Jamiat Kheir mulai menerima anggota-anggota baru yang terdiri dari berbagai elemen umat Islam tanpa dibatasi oleh latar belakang suku dan golongan.

Tercatat antara lain dua tokoh nasional kebangkitan bangsa yang menjadi anggota Jamiat, yaitu HOS  Cokroaminoto dan KH Ahmad Dahlan yang kemudian hari mendirikan Muhammadiyah. Keanggotaan mereka di Jamiat Kheir sedikit banyak, menurut Husin, telah memberi inspirasi bagi tumbuh kembangnya kesadaran berbangsa guna meraih kemerdekaan melalui cara-cara yang terorganisir, terstruktur, dan sistematis.

Berangkat dari kenyataan di atas, dia melanjutkan, penyelenggaraan milad kali ini memiliki arti penting. Jika dahulu Jamiat Kheir pernah ikut meretas jalan dalam proses kebangkitan di Tanah Air, melalui milad yang ke-115 ini ingin dikukuhkan kembali tekad untuk bangkit dan memainkan peranan penting.

Terutama dalam mendidik dan mencerdaskan kehidupan bangsa, katanya.

Oleh Abdullah sammy

ed: Nashih Nashrullah

 

Sumber: di sini